Perkawinan Sasak dan dijadikan sebagai budaya bersama. Adat merariq

            Perkawinan merariq muncul dari pengaruh Hindu-Bali setelah melakukan invasi
terhadap Pulau Lombok pada abad ke 17. Initimdasi kekuasaan dilakukan Bali
dengan semena-mena dalam memberikan sikap terhadap perempuan Sasak, yakni
sebagai pemuas hawa nafsu. Perlakuan ini memunculkan inisiatif dalam diri
masyarakat Sasak terutama para pemudanya. Pemuda Sasak memandang bahwa daripada
perempuan Sasak diambil oleh orang Hindu-Bali, maka lebih baik pemuda Sasak
yang membawa lari perempuan Sasak untuk menyelamatkan dan menikahinya.  Pada awalnya, merariq merupakan bentuk kepedulian serta keberanian pemuda Sasak
untuk menyelamatkan para perempuannya dari perlakuan semena-mena Bali. Di sini
terjadi arus akulturasi antara nilai kebudayaan Bali dan nilai Islam sehingga
lahirlah budaya merariq. Dalam
pelaksanaannya, perkawinan merariq
dibagi menjadi tiga proses tahapan, yakni tahapan sebelum perkawinan, proses
pelaksanaan, serta adat setelah perkawinan (Kaharudin, 2007).

            Adat merariq bisa dikategorikan sebagai tindakan rasional yang
tradisional karena merariq merupakan
kebiasaan yang sudah turun menurun dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak dan
dijadikan sebagai budaya bersama. Adat merariq
dimana membawa lari gadis dari pengawasan orang tuanya menandakan mereka berdua
telah mampu memegang tanggung jawab untuk mendiri menjalankan kehidupan
bersama. Makna lainnya adalah orang tua laki-laki berarti sudah berang, maksudnya siap untuk mengambil
resiko atas perbuatan anak laki-lakinya. Di masyarakat Suku Sasak apabila anak
perempuan mereka diminta dengan terus terang, orang tua perempuan akan
tersinggung karena anak perempuannya disamakan dengan benda atau barang
lainnya. Adat merariq dilakukan oleh
beberapa pasangan tersebut ada yang tanpa sepengetahuan maupun memang diketahui
oleh pihak orang tuanya. Ada rasa kebanggaan tersendiri bagi orang tua yang
anaknya dibawa lari oleh seorang pemuda (Ariany, 2017).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Tahapan sebelum perkawinan dimulai
dengan cara pemilihan jodoh. Terdapat dua cara memilih jodoh di kalangan
masyarakat Suku Sasak yakni kemele mesaq
dan suka lokaq. Kemele mesaq berarti atas dasar kemauan sendiri dari kedua belah
pihak yang dilakukan dengan cara melarikan, tetapi sebelum acara melarikan
terlebih dahulu antar gadis dan pemuda telah terjadi hubungan cinta yang
disebut dengan meleang atau kemelean yang pada puncaknya kedua belah
pihak memutuskan untuk melaksanakan perkawinan. Sedangkan suka lokaq berarti atas kemauan orang tua. Dengan cara ini
dimaksudkan bahwa orang tua dari kedua belah pihak atau dari salah satu pihak
saja yang aktif, sedangkan pemuda maupun gadis hanya bersifat pasif. Perkawinan
suka lokaq seringkali tidak diawali
oleh masa meleang atau kemelean, bahkan mungkin antara pemuda
dan gadis belum saling mengenal satu sama lain. Oleh karena itu kebanyakan
dengan cara ini seringkali berakhir dengan perceraian karena lemahnya dasar
ikatan yang dimiliki dalam suatu perkawinan. Kemele mesaq adalah cara yang paling banyak dilakukan untuk memilih
jodoh di masyarakat Suku Sasak dibandingkan dengan suka lokaq.