Menurut pada masa perang dingin berlangsung, membuat Korea Utara

Menurut buku U.S. Policy
Toward the Korean Peninsula tertulis beberapa poin yang seharusnya
direkomendasikan kepada Amerika Serikat dan para sekutunya (dalam hal ini
merupakan Korea Selatan)  dalam menghadapi
nuklir Korea Utara. Yang pertama adalah Mencegah proliferasi horisontal:
“Amerika Serikat dan sekutunya harus meningkatkan kewaspadaan terhadap
kemungkinan transfer teknologi senjata nuklir atau bahan fisil dari Korea Utara
dan memperkuat kapasitas untuk melaksanakan tindakan-tindakan kontra
proliferasi efektif.” Yang kedua adalah menghentikan proliferasi vertikal:
“Upaya yang tanpa Korea Utara untuk mengembangkan kemampuan pengiriman
rudal untuk arsenal nuklirnya akan secara dramatis memperluas kemampuannya
untuk mengancam negara tetangganya dan lebih rumit prospek untuk membalikkan
program nuklirnya.

Dan yang
ketiga adalah Denuklirisasi: “Perdebatan nonproliferasi dibandingkan
denuklirisasi adalah pilihan yang salah; Amerika Serikat dan mitra-mitranya
dapat dan harus melakukan keduanya dengan mengandung proliferasi sementara juga
menekan untuk denuklirisasi.” Hal ini juga ditambah dengan adanya
kerjasama dengan Cina sebagai sekutu terdekat Korea Utara dan juga harus adanya
pembicaraan bilateral dengan Korea Utara terkait dengan masalah misil nuklir
ini (U.S. Policy Toward the Korean Peninsula, 2010)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Hambatan dari
kesepakatan pembekuan senjata nuklir Korea Utara ini disebabkan oleh beberapa
hal. Yang pertama, adanya persepsi keamanan yang berbeda. Kedekatan Korea Utara dengan Uni Sovyet pada masa perang dingin
berlangsung, membuat Korea Utara menganut
ideologi marxisme – lenimisme. Namun Kim Il Sung, pemimpin Korea Utara pada saat itu mulai mengubah ideologi ini agar dapat lebih sesuai dengan kondisi yang ada di
Korea Utara saat itu. Kim Il Sung mengubah banyak ajaran komunis Uni Sovyet dan
menolak elemen dan teori maoist. Kim Il sung kemudian menciptakan sebuah paham
atau filosofi yang sampai sekarang lebih dikenal dengan nama Juche (Chuch’e),
atau dikenal juga dengan Kim Il-Sungisme. Juche terdiri dari tiga
nilai; chaju, charip, dan chawi.Dari praktek kehidupan
sehari-hari, sampai hubungan dengan bangsa lain, atau kebijakan politik,
ekonomi, dan militer Korea Utara, semua didasari oleh
teori Juche ini. 
Charip adalah kemandirian dalam ekonomi. Membangun ekonomi nasional
yang independen berarti bebas dari ketergantungan orang lain, berdiri di kaki
sendiri. Ekonomi yang melayani bangsa sendiri, mengembangkan kekuatan negeri
sendiri, dan oleh upaya bangsa sendiri.

Chaju adalah
cara Korea Utara melakukan hubungan antar bangsanya. Dalam pandangan nilai ini,
kedaulatan adalah hak yang tak dapat diganggu gugat. Menyerah pada tekanan luar
negeri dan mentoleransi interfensi politik atau bersikap sebagaimana anjuran
pihak lain harus dihindari.Terakhir, adalah nilai chawi yang
merupakan prinsip fundamental dari negara merdeka; membela negara sendiri
dengan usaha sendiri. Menerima bantuan dalam pertahanan nasional dari
negara-negara persaudaraan dan teman-teman diperbolehkan, akan tetapi, hal
utama adalah kekuatan sendiri. Tentara modern apabila dipadukan dengan
keunggulan politik-ideologis dan teknologi modern akan menjadi
tentara revolusioner yang benar-benar tak terkalahkan (Quinones, 2008).