A. penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan Digital

A.    
Latar Belakang

Penyelenggaraan
pendidikan pada dasarnya dibagi menjadi 3 bagian yaitu formal, non formal, dan
juga informal. Sekolah luar biasa merupakan lembaga pendidikan formal yang
melayani pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus atau anak dengan
disabilitas..

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di SLB merupakan anak
yang memiliki permasalahan fisik, emosional, mental, sosial, memiliki potensi
kecerdasan atau bakat istimewa sehingga perlu mendapatkan pelayanan pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan dan hak asasinya.

Ada 14 kategori anak berkebutuhan khusus yaitu: tuna rungu, tuna
wicara, tuna netra, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, anak berkesulitan
belajar, anak lamban belajar, autism, anak cerdas istimewa, hiperaktifitas,
penyalahgunaan narkoba, tuna ganda, serta anak korban situasi.1
Dengan demikian anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan yang berbeda
dibanding anak normal seusianya. Oleh karena itu pendidikan khusus memerlukan
pengajar atau guru yang secara spesifik dapat menangani serta memberikan
pengajaran sesuai kemampuan mereka.

Pada umumnya sekolah berkebutuhan khusus para gurunya dituntut
untuk berkreasi, berinovasi, dan dituntut untuk memiliki kepekaan sekaligus
kemampuan dalam berkomunikasi yang baik. Didalam berkreasi, para guru
memerlukan suatu media sebagai salahsatu alat bantu didalam memberikan
pelajaran. Media tersebut untuk memudahkan komunikasi dan belajar. Terdapat 6
kategori dasar media antara lain yaitu: video, visual, teks, benda-benda, dan
manusia. Pemanfaatan media tersebut akan efektif apabila guru mampu memahami
bagaimana siswa belajar, karakteristik belajar, bahkan sampai potensi belajar.
Media audio-visual yang dapat digunakan adalah Digital Storytelling. Digital
Storytelling merupakan ekspresi modern dari seni bercerita yang kuno dengan
mengandalkan kekuatan gambar, musik, suara (lagu dan narasi), bersama-sama
sehingga memberikan dimensi dan warna dalam hal karakter, situasi, pengalaman
dan wawasan.2
Penggunaannya adalah dengan menggabungkan beberapa gambar dan musik menjadi
suatu cerita yang menarik atau video animasi yang menarik. Untuk beberapa anak
berkebutuhan khusus, warna dan suara tertentu dapat menarik minat mereka untuk
memperhatikan sebuah cerita. Serta untuk beberapa anak berkebutuhan khusus
lainnya metode cerita dapat membantu mereka untuk lebih memahami suatu materi.

 

B.    
Tujuan

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
penerapan Digital Storytelling sebagai sarana meningkatkan daya belajar
anak berkebutuhan khusus di SLBN 1 Jakarta.

 

C.    
Metode

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian
deskriptif merupakan penelitian yang mendesripsikan dan memberi penjelasan
mengenai keadaan yang terjadi di lapangan sebenarnya.3
Kemudian pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif ,
yaitu alat untuk memaparkan dan memahami makna yang berasal dari individu dan kelompok
mengenai masalah sosial atau masalah individu. Proses penelitian ini juga
melibatkan pertanyaan dan juga prosedur yang muncul, yaitu dengan mengumpulkan
data berdasarkan setting partisipan, mengelola data dari yang spesifik menjadi
tema umum, menganalisis data secara induktif, serta membuat penafsiran mengenai
makna dibalik data.4

 

D.    
Hasil

1.     
Karakteristik Anak Berkebutuhan
Khusus

Anak berkebutuhan
khusus merupakan anak dengan kelainan atau pemyimpangan yang sangat menonjol
dari rata-rata anak normal sesuianya, baik dalam mental ataupun perilaku
sosialnya.5
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak jenis-jenis
anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi 12 kategori yaitu:

a.      
Anak disabilitas penglihatan, merupakan
anak dengan gangguan penglihatan seperti kebutaan total atau sebagian.

b.     
Anak disabilitas pendengaran,
merupakan anak dengan gangguan pendengaran total ataupun sebagian. Anak yang
mengalami gangguan ini akan kesulitan dalam berbahasa dan berbicara.

c.      
Anak disabilitas intelektual,
merupakan anak dengan IQ dibawah rata-rata dengan anak seusianya dan juga ia
kesulitan dalam beradaptasi perilaku.

d.     
Anak disabilitas fisik, merupakan
anak dengan keterbatasan gerak secara fisiknya bisa berupa kelumpuhan, tidak
lengkap anggota badan, dll.

e.      
Anak disabilitas sosial, merupakan
anak yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan cenderung berbuat menyimpang.

f.      
Anak dengan gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktifitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactifity
disorder (ADHD), merupakan anak dengan gangguan perkembangan yang
menyebabkan ia kesulitan berperilaku dan juga mengendalikan emosi.

g.      
Anak dengan gangguan spektrum
autisma atau autism spectrum disorder (ASD), merupakan anak yang
mengalami kesulitan didalam kemampuan dalam berkomunikasi, dan juga interaksi
sosial.

h.     
Anak dengan gangguan ganda,merupakan
anak dengan dua atau lebih gangguan, sehingga sangat dibutuhkan seorang
pendamping, pendidikan khusus, layanan, dan alat antu belajar yang khusus.

i.       
Anak lamban belajar atau slow
learner, merupakan anak dengan IQ sedikit dibawah rata-rata namun bukan
gangguan mental. Anak seperti ini membutuhkan waktu yang lama untuk menyerap
dan memahami suatu pelajaran.

j.       
Anak dengan kesulitan belajar khusus
atau specific learning dissabilities, merupakan anak dengan gangguan
psikologis dasar seperti membaca, berhitung, menulis, berbicara, berpikir, dll.

k.     
Anak dengan gangguan komunikasi,
merupakan anak dengan gangguan dalam perkembangan bahasa, sehingga ia sulit
dalam melakukan komunikasi.

l.       
Anak dengan  potensi kecerdasan atau bakat istimewa,
merupakan anak dengan IQ tinggi atau juga mereka sangat unggul dalam bidang
khusus seperti olahraga, kesenian, bernyanyi, dll.6

2.     
Upaya Guru SLBN 1 Jakarta didalam
Meningkatkan Daya Belajar Siswa Berkebutuhan Khusus dengan Menggunakan Digital
Storytelling

Didalam
meningkatkan daya belajar siswanya para guru di SLBN 1 Jakarta sering kali
menggunakan Digital Storytelling untuk menarik minat para siswanya
dikarenakan para siswa di SLBN 1 Jakarta ini adalah anak-anak berkebutuhan
khusus, sehingga para gurunya pun diharuskan melakukan cara-cara khusus didalam
mendidik siswanya. Para guru disana melakukan digital story telling dengan
menggunakan media audio-visual yang berupa film-film animasi dengan konten
mendidik dan ada pesan baik yang tersirat disetiap film animasi digital
storytelling tersebut. Para siswa pun terlihat sangat menikmati ketika film
sudah diputar dan sangat antusias menyaksikan digital storytelling tersebut.

3.     
Prinsip Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus

Pengembangan
Prinsip-prinsip pendekatan secara khusus, yang dapat dijadikan dasar dalam
upaya mendidik anak berkebutuhan khusus, antara lain sebagai berikut:

a.      
Prinsip kasih sayang, prinsip kasih
sayang ini pada prinsipnya adalah dengan menerima mereka apa adanya. Upaya yang
dapat dilakukan untuk mereka yaitu: tidak memanjakan meraka, tidak bersikap
acuh tak acuh terhadap segala kebutuhannya, dan juga memberikan tugas sesuai
dengan kemampuan anak tersebut.

b.     
Prinsip layanan individual,
pelayanan individual dalam rangka mendidik anak berkebutuhan khusus perlu
mendapatkan porsi yang lebih besar, oleh karena itu upaya yang perlu dilakukan
yaitu: jumlah siswa yang dilayani guru tidak lebih dari 4-6 orang dalam setiap
kelasnya, pengaturan kurikulum dan jadwal pelajaran dapat bersifat fleksibel,
modifikasi alat bantu pengajaran.

c.      
Prinsip kesiapan, untuk menerima
suatu pelajaran tertentu diperlukan kesiapan. dikarenakan pengetahuan
prasyarat, baik prasyarat pengetahuan, mental dan juga fisik sangat diperlukan
untuk menunjang pelajaran berikutnya maka diperlukan kesiapan didalam mendapatkan
ilmu dalam pelajaran yang akan diajarkan.

d.     
Persiapan peragaan, alat peraga yang
digunakan untuk media sebaiknya diupayakan menggunakan benda atau situasi
aslinya, namun apabila hal itu sulit dilakukan, dapat menggunakan benda tiruan
atau minimal gambarnya.

e.      
Prinsip motivasi, yaitu prinsip ini
sangat mengutamakan cara mengajar serta pemberian evaluasi yang disesuaikan
dengan anak berkebutuhan khusus.

f.      
Prinsip belajar dan bekerja kelompok,
penerapan prinsip belajar dan bekerja dalam kelompok sebagai anggota masyarakat
yaitu dapat bergaul dengan masyarakat di lingkungannya, tanpa harus merasa
rendah diri ataupun tidak percaya diri dengan orang normal lainnya bagi anak
berkebutuhan khusus. Melalui kegiatan tersebutlah diharapkan mereka (anak
berkebutuhan khusus) dapat memahami cara bergaul dengan orang lain secara baik
dan wajar serta umum yang dilakukan oleh anak normal lainnya..

g.      
Prinsip keterampilan, prinsip
keterampilan ini sangat bermanfaat bagi anak berkebutuhan khusus dimana mereka menerima
pendidikan keterampilan yang bersifat selektif, edukatif, rekreatif, dan
terapi, serta juga dapat dijadikan sebagai bekal dalam masa depan dan
kehidupannya kelak.

h.     
Prinsip penanaman dan penyempurnaan
sikap, prinsip penanaman dan penyempurnaan sikap ini sangat perlu dilakukan
mengingat sikap anak berkebutuhan khusus kurang baik oleh karena itu sangat
perlu diupayakan agar mereka mempunyai sikap yang baik agar tidak selalu
menjadi perhatian orang lain.7

4.     
Manfaat belajar Digital
Storytelling

Adapun 6
manfaat dari Digital Storytelling diantaranya yaitu:

a.      
Kreativitas dan inovasi

b.     
Komunikasi dan kolaborasi

c.      
Penelitian dan kelancaran informasi

d.     
Berpikir kritis, pemecahan masalah,
dan pengambilan keputusan

e.      
Masyarakat digital

f.      
Pengoperasian8

Selain itu Digital
Storytelling juga mempunyai beberapa elemen yaitu:

a.      
Point of view atau sudut
pandang

b.     
Dramatic question atau sebuah
pertanyaan drama

c.      
Emotional content atau konten
emosional

d.     
The gift of your voice atau pemberian
suara

e.      
The power of the soundtrack atau kekuatan
musik pengiring

f.      
Economy atau tingkat
ekonomi

g.      
Pacing atau tingkat
kecepatan9

Beberapa keuntungan menggunakan Digital Storytelling
diantaranya meningkatkan motivasi belajar siswa terutama dalam hal membaca dan
menyusun cerita, dan adanya pengalaman pribadi yang menarik ketika menyusun
sebuah cerita. Maka dengan memahami suatu alur cerita dibuat, diharapkan siswa
dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berbahasa secara lisan. Termasuk
mengungkapkan pendapat maupun refleksi pribadi.

 

E.    
Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada point sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa penerapan Digital Storytelling sebagai sarana meningkatkan daya
belajar siswa berkebutuhan khusus di SLBN 1 Jakarta telah dilaksanakan dengan
baik oleh para gurunya, dan para siswa pun sangat antusias ketika pemutaran
film animasi telah dilakukan, serta manfaat menggunakan Digital Storytelling
yaitu meningkatkan motivasi belajar siswa terutama dalam hal menyusun
cerita.

1  Hidayat dan Yulia Suharlina, “Anak
Berkebutuhan Khusus,” 20, diakses 7 Januari 2018,
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ABK%20TUK%20TENDIK.pdf.

2
Endang Fatmawati, “Media Baru Digital
Storytelling di Perpustakaan,” 107, diakses 14 November 2017,
http://journal.fppti.or.id/index.php/lib/article/viewFile/30/34.

3
Prasetya Irawan, Logika dan Prosedur
Penelitian (Jakarta: STIA-LAN, 1999), 60.

4
John W. Creswell, Research Design:
Pendekatan Kualitatif, Kuantitaif, dan Mixed, Ed. 3 (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2010), 352.

5
Efendi M, Pengantar Psikopedagogik
Anak Berkelainan (Jakarta: Bumi Aksara, 2006).

6
Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Panduan
Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping (Orang Tua, Keluarga, dan
Masyarakat) (Jakarta: Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak Republik Indonesia, 2013), 9.

7
Nandiyah Abdullah, “Mengenal anak
berkebutuhan khusus,” Magistra 25, no. 86 (2013): 9.

8
Wina Heriyana, Irena Y, dan Maureen,
“Penerapan Metode Digital Storytelling pada Keterampilan Tokoh Idola Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII di SMP Negeri 1 Kedamean, Gresik,” Universitas
Negeri Surabaya, 2014, 3,
jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/article/11390/12/article.pdf.

9
Brigitta Erlita Tri Angadewi, “Digital
Storytelling Sebagai Media Bagi Guru untuk Mengembangkan Komunikasi Anak
Berkebutuhan Khusus,” Universitas Islam Sultan Agung, 2017, 237,
jurnal.unissula.ac.id/index.php/ippi/article/download/2194/1656.