Liberalisme adalah salah satu dari
empat perspektif yang ada di dalam Hubungan Internasional. Liberalisme sendiri
merupakan salah satu perspektif awal dan merupakan lawan dari realisme. Para
pemikir realisme lebih menekankan pada negara sebagai aktor utama dan
menyatakan bahwa tidak ada aktor lain yang posisi atau kedudukannya lebih
tinggi dibandingkan dengan negara itu sendiri (Dunne & Schmidt, 2017). Kemudian realisme
lebih melihat kekuatan sebagai modal yang harus diperjuangkan oleh setiap
negara. Sedangkan liberalisme sangat bertolak-belakang dengan realisme.
Liberalisme melihat bahwa aktor dalam Hubungan Internasional tidak hanya negara
itu sendiri, melainkan ada aktor-aktor lain seperti aktor-aktor transnasional,
korporasi multinasional (MNC), dan
termasuk individu atau perseorangan yang dapat memberikan dampak atau pengaruh terhadap
dunia global (Dunne, 2017).
Dengan adanya begitu banyak variabel dan dalam hal ini adalah aktor-aktor yang
berperan, maka interaksi antar aktor ini menjadi sangat mungkin dan bisa
dikatakan tidak dapat dihindari. Interaksi ini bertujuan untuk mencapai suatu
tujuan, baik itu tujuan sebuah negara secara pribadi maupun tujuan bersama
negara-negara yang terlibat (common
interest).

Dalam mencapai common interest tersebut, muncullah istilah regionalisme yang dapat
menjadi sebuah sarana atau cara yang lebih efisien untuk mencapai tujuan dari
negara-negara yang terlibat (Best & Christiansen, 2017). Cara ini hanya berlaku pada
negara-negara yang secara geografis letaknya berdekatan antara negara yang satu
dengan yang lainnya. Hal ini dimaksudkan agar negara-negara yang terlibat dapat
terintegrasi dengan baik. Dalam dimensi regionalisme yang begitu beragam,
muncul lagi sebuah kondisi yang bernama regionalisasi. Regionalisasi ini sering
dipakai untuk mengacu pada pertumbuhan dari integrasi sosial yang mencakup
sebuah wilayah dan kadang menjadi sebuah proses yang tidak dapat dikendalikan
dari interaksi sosial dan ekonomi (Hurrell, 1995). Proses-proses ini
dapat menghasilkan ketergantungan antar negara, sehingga kondisi hubungan antar
negara jauh lebih kondusif untuk melakukan kooperasi atau kerja sama. Di dunia
ini ada begitu banyak organisasi-organisasi yang mencerminkan regionalisme.
Organisasi-organisasi ini mewakili sebuah kawasan di dalam benua, dapat
mewakili benua itu tersebut, dan bahkan ada beberapa organisasi yang dapat
mewakili negara-negara antar benua. Contohnya ASEAN, Uni-Eropa, NATO, NAFTA,
APEC, dll.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Dalam organisasi yang mewakili
wilayah-wilayah tertentu ini biasanya membahas masalah-masalah yang pada
umumnya terkait dengan masalah ekonomi, masalah lingkungan, masalah keamanan,
dan masalah-masalah lainnya.